OUTING KULIAH ANTROPOLOGI DAN BUDAYA INDONESIA

KE GUNUNG GADUNG, BOGOR

 

Sebagai bagian dari penyelenggaraan matakuliah Antropologi dan Budaya Indonesia, pada tanggal 12 November 2011 yang lalu, dilakukan outing ke Gunung Gadung, Bogor. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 20 mahasiswa dengan didampingi oleh dosen pengampu matakuliah yaitu Ibu Suzy Azeharie, MA, M.Phil. Dan dimaksudkan untuk memberikan pemahaman wacana kepada mahasiswa melalui bukti nyata yang terdapat dilapangan.

Gunung Gadung sudah lama dikenal sebagai kawasan pemakaman tua khusus untuk warga keturunan Tionghoa, baik yang beragama Kristen, Katolik maupun Budha dan Kong Hu Cu. Terletak di gunung dengan pemandangan indah kearah Gunung Salak, kawasan yang sangat luas ini sangat menarik untuk dilihat. Mahasiswa bisa menyaksikan dan mempelajari secara langsung berbagai bentuk macam bentuk kubah kuburan. Karena kubah atau bentuk kuburan antara makam Kristen atau Katolik berbeda, apalagi bila dibandingkan dengan makam penganut Kong Hu Cu. Perjalanan ketempat ini sangat dinikmati mahasiswa karena selain berudara sejuk juga hamparan pemandangan yang indah ada didepan mata.

Dari kawasan Gunung Gadung, perjalanan diteruskan ke Petilasan Prabu Siliwangi di daerah Batu Tulis Bogor. Di Petilasan tersebut terdapat prasasti berbentuk batu besar yang bertuliskan bahasa Jawa kuno dan dibuat sekitar tahun 1570-an ketika Prabu Siliwangi berkuasa. Tulisan di batu ini kira-kira memberitahukan bahwa pada masa tersebut hidup dan bertahta seorang Raja besar. Juga dapat dilihat bekas tapak Prabu Raja yang tercetak disebuah batu dan lekukan batu yang diakibatkan oleh tekanan lutut beliau. Seorang kuncen penjaga prasasti menerangkan juga batu batu lain yang terhampar di halaman merupakan bagian dari prasasti, yaitu tempat ditambatkannya kuda-kuda tunggangan pada masa jayanya Kerajaan Pajajaran.

Outing kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi Istana Batutulis, rumah pribadi Presiden Pertama RI Soekarno, eski hanya dari depan karena istana yang bernama “Hyang Puri Bima Sakti” ini tertutup bagi umum. Sebelum Bung Karno meninggal dunia, beliau berpesan agar jenazahnya dikuburkan di Istana Batu Tulis dibawah sebatang pohon besar. Tapi karena alasan politis, Presiden yang berkuasa saat itu, Suharto menguburkan pendahulunya tersebut di daerah Blitar Jawa Timur.