b-hi.jpg
Profil Prodi HI Studi Hubungan Internasional (HI) adalah
foto_parmad.jpg
  Kurikulum dan Metode Perkuliahan Program Studi Hubungan
tim-hi.jpg
Nama dan Asal Perguruan Tinggi Para Pengajar: Ahmad Khoirul

ARLISKA FATMA ROSI MEWAKILI INDONESIA PADA GENCLIK HAFTASI (INTERNATIONAL YOUTH WEEK) 2012 DI ANKARA, TURKI

  • PDF

 

Pada tanggal 13-22 Mei 2012 silam, salah satu mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Paramadina, yaitu Arliska Fatma Rosi, mendapatkan kesempatan diundang oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga Turki, melalui Kedutaan Besar Turki di Indonesia untuk menghadiri rangkaian kegiatan Hari Pemuda dan Olahraga Dunia di Ankara, Turki. Fatma menjadi satu dari tiga delegasi Indonesia yang berangkat ke Ankara setelah memenuhi proses seleksi yang dilakukan oleh Duta Besar Turki untuk Indonesia, Zekerya Arcam.


International Youth Week 2012 merupakan salah satu kegiatan dari rangkaian acara akbar yang dilaksanakan Turki dalam rangka memperingati Hari Pemuda dan Olahraga Nasional dan Internasional, serta peresmian pembangunan Stadium olahraga berstandar internasional sebagai salah satu pencapaian pembangunan Turki untuk pemuda dan keolahragaan.

International Youth Week dihadiri oleh kurang lebih 200 orang pemuda delegasi seluruh dunia dan 350 peserta yang mewakili negara-negara di dunia sebagai pengisi acara (penampilan seni tari, budaya dan pertunjukan). Kegiatan dibuka pada tanggal 15 Mei 2012 dengan upacara di Attaturk Mausoleum yang merupakan Monumen Nasional Mustafa Kemal Attaturk (Bapak Bangsa Republik Turki) yang dibuka oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Turki, Suat Kilic. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan parade menuju AKM (Attaturk Kultur Merkezi), Gelanggang Pusat Kebudayaan Attaturk.


Rangkaian pertunjukan dan stand dari 61 daerah di Turki serta representasi negara-negara Eropa, Asia Tengah, Amerika, dan Afrika dipusatkan selama satu minggu di AKM, sedangkan delegasi International Youth Week mengisi program perjalanan mengunjungi tempat-tempat pariwisata dan lokasi bersejarah di Turki. Delegasi mengunjungi Gedung Parlemen (DPR/MPR) Turki dan beramah tamah dengan Perdana Menteri, mengunjungi museum dan gedung parlemen pertama Turki, serta gedung Kementerian Pemuda dan Olahraga Turki.

Pada kesempatan mengisi acara di AKM, delegasi Indonesia tampil sebagai delegasi terbaik dengan persembahan musikalisasi puisi berbahasa Indonesia yang kemudian ditranslasi ke Bahasa Inggris dan diiringi oleh lagu dan alunan permainan biola Putri Batik 2010 yang juga merupakan salah seorang delegasi.


Program lainnya ialah mengunjungi museum Jalaluddin Ar Rumi di kota-kota kelahiran beliau, Konya, mengunjungi kota pariwisata gua batu Turki, Kapadocia, serta kastil dan bangunan bersejarah di Istanbul seperti Sultan Ahmed Camii (Mesjid Biru), Aya Sopia Camii (Museum Aya Sopia) dan program pembelajaran sejarah penaklukan Konstantinopel (nama Turki sebelum ditaklukkan oleh pasukan Janissary) dibawah kepemimpinan Sultan Muhammad Fatih yang ketika itu berusia 22 tahun di Istanbul. Kegiatan ditutup oleh Perdana Menteri pada tanggal 19 Mei 2012 di Ankara Arena (Stadium Olahraga Ankara) dengan pertunjukan kebudayaan dari seluruh daerah di Turki.

 

 

SHORT DIPLOMATIC COURSE PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL 2-3 MEI 2012

  • PDF

Program Studi Hubungan Internasional kembali menyelenggarakan Praktik Diplomasi berupa Simulasi Persidangan ASEAN Regional Forum (ARF) dengan fokus tema "The Crisis in South China Sea". Praktik Diplomasi yang merupakan salah satu ujian praktik dari Mata Kuliah "Diplomacy in Practice" diikuti oleh sekitar 75 mahasiswa selama 2 hari penuh pada Rabu-Kamis, 2-3 Mei 2012. Mahasiswa dibagi menjadi 15 delegasi yang mewakili negara anggota ARF, yaitu Australia, Amerika Serikat, Brunei Darusalam, China, Jepang, Malaysia, Myanmar, Singapura, Korea Selatan, Filipina, Laos, Indonesia, Vietnam, Kamboja, Thailand, dan ASEAN Secretariat.

Sebagai persiapan awal, setiap delegasi harus menyusun dua dokumen berupa country statement dan position paper. Di hari pertama, para delegasi mengikuti sesi sidang plenary, konferensi pers dan sidang kelompok kerja. Dalam konferensi pers, para delegasi dan ASEAN Secretariat melakukan proses negosiasi untuk menghasilkan suatu siaran pers bersama tentang maksud dan tujuan pelaksanaan forum ARF ini dalam rangka menyelesaikan konflik di wilayah Lau China Selatan. Selanjutnya pada sesi kelompok kerja, para delegasi dibagi-bagi menjadi 3 kelompok berdasarkan sub tema pembahasan secra lebih detail dan fokus, yaitu 1). Evaluasi terhadap Aturan Pelibatan di Laut China Selatan, 2). Keamanan Maritim dan Pengaturan Navigasi di Laut China Selatan serta 3). Pengaturan eksplorasi dan ekspoiltasi sumber daya alam dan manajemen lingkungannya di wilayah Laut China Selatan.

Di hari kedua, para delegasi bekerja keras melakukan proses negosiasi dan kompromi dalam upaya menyusun sebuah komunike bersama, joint comminique, dalam upaya penyelesaian konflik di laut Cina Selatan. Seluruh mahasiswa terlihat bersemangat dan bersungguh-sungguh dalam pelaksanaan simulasi persidangan ini yang difasilitasi oleh dua dosen pengampu MK Diplomacy in Practice, yaitu Ibu Adinda Teriangke, MA dan Shiskha Prabawaningtyas, MA.

Seminar & Workshop Fakultas Falsafah & Peradaban

  • PDF

 

 

 

Pada Rabu, 1 Februari 2012, Fakultas Falsafah & Peradaban Universitas Paramadina menyelenggarakan acara seminar dan worshop yang bertajuk “Meneguhkan Identitas Keislaman & Kebhinekaan untuk Membendung Arus Radikalisme di Kalangan Generasi Muda Indonesia”. Acara ini terselenggara sebagai hasil kerjasama dengan Dinas Pendidikan, DKI Jakarta ini dalam implementasinya digawangi oleh empat Program Studi, yakni Prodi Hubungan Internasional, Prodi Ilmu Komunikasi, Prodi Falsafah & Peradaban, dan Prodi Psikologi, Universitas Paramadina. Kegiatan yang dihadiri oleh 50 guru SMA dan 150 siswa SMA dan Madrasah Aliyah itu diarahkan untuk membendung proses transformasi radikalisme yang banyak menjangkiti kalangan generasi muda di perkotaan. Strategi dan pendekatan ini diarahkan sebagai respon atas sejumlah fakta yang menunjukkan banyaknya kelompok remaja tanggung yang menjadi bagian dari jaringan terorisme.


Terbatasnya ruang dialog di sekolah dan kampus membuat virus radikalisme dan fundamentalisme cepat berkembang biak. Dengan kata lain, kini lembaga pendidikan merupakan area yang tidak imun terhadap pengaruh serta infiltrasi paham, wacana, dan gerakan dari luar. Walhasil, dengan pencucian otak secara kilat, para pemuda itu secara instan dapat mentransformasikan dirinya sebagai aktor kriminal, teroris hingga pelaku makar terhadap kedaulatan negara. Karena itu, kegiatan ini ditujukan sebagai kontraideologi yang menggunakan perspektif keagamaan serta keindonesiaan yang utuh untuk menangkal bahaya dan ancaman laten dari paham fundamentalisme dan radikalisme. Selain itu, kegiatan ini juga diarahkan sebagai media dan ruang dialogis untuk merekonstruksi kesadaran baru para generasi muda guna menumbuhkan kesadaran akan pentingnya membentengi diri dari pengaruh paham fundamentalisme dan radikalisme di sekitarnya.

 

 

 

 

Seminar Nasional Tahunan Program Studi HI & Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik, Kemenlu RI

  • PDF

 

 

Pada Rabu, 7 Maret 2012 lalu, Program Studi Hubungan Internasional, Universitas Paramadina, Jakarta menyelenggarakan seminar Nasional Tahunan bertajuk “Telaah Kritis dan Prediktif terhadap Dinamika Politik Luar Negeri dan Diplomasi Indonesia”. Seminar yang diselenggarakan sebagai hasil kerjasama Prodi HI Paramadina dengan Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik, Kementerian Luar Negeri RI ini, diisi oleh sejumlah pembicara yaitu Makarim Wibisono, PhD (Staf Pengajar di Paramadina Graduate School), Kusumah Habir (Direktur Diplomasi Publik, Kemenlu RI), dan Rikard Bagun (Pemimpin Redaksi Kompas).

Seminar yang dibuka oleh Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan, PhD itu menegaskan bahwa regionalisme yang ada di Asia Tenggara saat ini harus terus diperkuat sebagai semangat kolektivitas dalam menciptakan kawasan yang stabil, maju, dan sejahtera. “Jika Asia Timur mengalami kesulitan untuk menciptakan regionalisme, sementara negara–negara di Asia Selatan masih bersifat individual, maka wajah Asia Tenggara menjadi lebih berbeda”, ujar Anies dalam sambutannya. Menanggapi hal itu, Kusumah Habir dari Direktorat Diplomasi Publik mengatakan bahwa Indonesia sebagai salah satu jangkar regionalisme di Asia Tenggara, saat ini tengah mempromosikan demokrasi lewat Bali Democracy Forum (BDF) sebagai ikon diplomasi internasional Indonesia.

Sementara itu, Makarim Wibisono, PhD menuturkan bahwa konsep diplomasi Indonesia harus terus ditingkatkan. Saat menjadi ketua ASEAN pada tahun 2011 lalu, kata Makarim, Indonesia telah melakukan banyak hal terkait dengan penyelesaian konflik di kawasan, mempromosikan kualitas demokrasi dan kemajuan Myanmar, hingga penyuksesan penyelenggaraan Bali Concord yang menjadi nilai plus bagi Indonesia. Ke depan, ujar Makarim, Indonesia harus lebih aktif dalam meningkatkan stabilitas regional mengingat Dewan keamanan PBB belum aktif dan responsif dalam menjalankan fungsinya, sementara isu-isu internasional perlu mendapatkan respon cepat dan cerdas dari Indonesia. Misalnya, masalah Palestina yang menjadi semakin komplek, Protokol Kyoto yang belum jelas nasibnya, hingga konflik Laut China Selatan yang belum ada penyelesaiannya. Sementara itu, Pemimpin Redaksi Kompas Rikard Bagun menegaskan bahwa diplomasi Indonesia ke depan harus lebih berani dan percaya diri. Dalam konteks konflik perbatasan Thailand dan Kamboja, Konflik kepulauan Spratly, isu nuklir Korea Utara, dan politik Myanmar, harus mendapatkan perhatian lebih demi terciptanya stabilitas kawasan Asia Tenggara yang mapan.

 

 

 

 

 

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

Positive SSL