b-hi.jpg
Profil Prodi HI Studi Hubungan Internasional (HI) adalah
foto_parmad.jpg
  Kurikulum dan Metode Perkuliahan Program Studi Hubungan
tim-hi.jpg
Nama dan Asal Perguruan Tinggi Para Pengajar: Ahmad Khoirul

XXIII Russian Student Spring Festival

  • PDF

Normal 0 false false false false EN-US X-NONE X-NONE

Bisa menjadi bagian dari Universitas Paramadina adalah merupakan anugerah yang luar biasa. Kampus ini selalu memberikan dukungan penuh terhadap mahasiswa bahkan hingga alumninya untuk terus berani mengejar mimpi, mengembangkan potensi diri, dan memberikan kontribusi nyata terhadap masyarakat. Berkat dukungan yang diberikan oleh Universitas dan juga Prodi Hubungan Internasional, saya dan tim berhasil membawa nama baik Indonesia dalam acara XXIII Russia Student Spring Festival and Public Diplomacy School for Asia Pasific Region yang diadakan di Vladivostok, Russia pada bulan Mei lalu. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Pemerintah Federasi Rusia berkerjasama dengan Russian Union of Youth ( Organisasi kepemudaan Rusia ). Sekolah diplomasi ini telah sukses diadakan selama 22 tahun dan tahun 2015 merupakan tahun pertama ASEAN mendapatkan undangan resmi dari pemerintah Rusia untuk dapat mengirimkan delegasinya. Menjadi suatu kebanggaan bahwa untuk pertama kalinya, ASEAN hanya diwakili oleh Indonesia melalui 5 pelajar yang telah terpilih melalui proses seleksi di bawah naungan Dinas Pemuda dan Olahraga. Menjelang keberangkatan, satu pesan yang selalu disampaikan kepada kami untuk selalu menjaga nama baik tak hanya nama baik universitas namun juga Indonesia hingga ASEAN. Hal ini dikarenakan, posisi dan suara voting yang akan kami keluarkan di forum akan mewakili suara dan posisi negara ASEAN lainnya.

Kegiatan sekolah diplomasi ini diadakan di Far Eastern Federal University( FEFU ) yang terletak di Russky Island. Acara ini diikuti oleh pemuda yang berasal dari negara – negara yang terletak di wilayah Asia Pasifik seperti Korea Selatan, Tiongkok, China, Mongolia, Tajikistan, Uzbekistan, Mali, Jepang, Russia, India dan juga Indonesia. Salah satu hal yang menarik adalah kutipan pidato yang sempat disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Russia, ia mengatakan bahwa public diplomacy school for Asia Pasific Region harus selalu diadakan di Vladivostok karena sesuai dengan arti nama Vladivostok yang terbagi menjadi 2, Vladi = To lead, to maintain, to take a controll. Vostok = The East. Hal ini berarti bahwa Vladiostok dicanangkan sebagai tempat atau poros kekuatan baru bagi kawasan Asia Pasifik. Dalam acara ini kami belajar secara detail mengenai poros kekuatan dunia yang akan mengarah menuju wilayah Asia Pasifik, belajar tentang perkembangan geopolitik, tata pemerintahan, iklim lingkungan bahkan hingga isu nuklir lengkap dengan sistem pengendalian nuklir. Beberapa hari sebelum kegiatan sekolah selesai diadakan, seluruh delegasi membentuk suatu kepanitiaan baru untuk mengadakan Asia Pasific for Youth Summit yang akan diadakan pada tahun 2016 di Seoul, Korea Selatan dengan begitu diharapkan interaksi yang telah berlangsung akan terus dapat ditingkatkan dan dipertahankan sehingga delegasi yang telah saling bertemu di sekolah ini dapat bersama-sama membentuk kekuatan baru sebagai pemimpin muda di masa yang akan datang.

Have a good day friends !!

 


Second Foreign Language Cultural Fair

  • PDF

Second Foreign Language Cultural Fair merupakan program tahunan yang diselenggarakan oleh Program Studi Hubungan Internasional, Universitas Paramadina di Aula Nurcholish Madjid. Peserta Second Foreign Language (SFL) adalah mahasiswa yang sedang menempuh perkuliahan Bahasa Asing yang diselenggarakan oleh Program Studi yaitu Bahasa Arab, Bahasa Perancis, Bahasa Mandarin, dan Bahasa Jepang.

Program Studi Hubungan Internasional Universitas Paramadina meyakini bahwa kegiatan belajar tidak hanya dilakukan di dalam kelas, tapi juga melalui implementasi dari perkuliahan itu sendiri, oleh karenanya mahasiswa yang mengambil matakuliah Bahasa asing dapat mempraktekkan Bahasa yang mereka pelajari melalui Cultural Fair tersebut sekaligus menampilkan rasa percaya diri dari mahasiswa Hubungan Internasional.

Dalam kesempatan tersebut, masing-masing kelas menampilkan keunikan budaya dari masing-masing negara yang bahasanya dipelajari serta menampilkan juga tarian dan drama musikal dalam masing-masing Bahasa.

 

 

Diskusi Publik dan Launching Penelitian: “Evaluasi Peran Polri dalam Menangani Konflik Papua Masa Reformasi”

  • PDF

Program Studi Hubungan Internasional Bekerjasama dengan IMPARSIAL menyelenggarakan Diskusi Publik mengenai “Evaluasi Peran Polri dalam Menangani Konflik Papua Masa Reformasi”. Acara ini dilaksanakan pada hari Rabu, 6 Mei 2015 bertempat di Auditorium Nurcholish Madjid Universitas Paramadina.

Adapun para pembicara adalah

1. Irjen Pol. Drs. HM Tito Karnavian, MA, Ph.D (ASRENA Mabes POLRI)

2. Nur Kholis (Ketua KOMNAS HAM)

3. Masinton Pasaribu, S.H (Anggota Komisi III DPR RI)

4. Thaha Al Hamid (Tokoh Masyarakat Papua)

5. Poengky Indarti, S.H., L.L.M (Direktur Eksekutif Imparsial)

6. Jerry Indrawan, M.Si Han (Moderator, Dosen HI Univ. Paramadina)

Konflik Papua dan upaya penanganannya oleh pemerintah selama ini terus menjadi perhatian. Salah satu yang sering disorot terkait dengan masalah kebijakan keamanan. Kenyataannya, perubahan politik pasca 1998 tidak serta merta membawa perubahan dalam pendekatan keamanan di Papua. Hal itu terlihat dari pola pendekatan yang mengedepankan cara-cara militeristik masih tetap digunakan hingga kini.

Seharusnya, sejalan dengan proses demokratisasi pendekatan militeristik sebagai warisan Orde Baru ditanggalkan bersamaan dengan membuka jalan dialog untuk menemukan solusi yang komprehensif atas persoalan Papua. Dalam kebijakan keamanannya, juga harus diubah tidak lagi mengedepankan militer, tetapi kepolisian yang harus menjadi garda terdepan. Dengan peralihan ini, maka fungsi-fungsi pemolisian yang harus dikedepankan di Papua, bukannya operasi-operasi militer.

Penting dicatat juga bahwa kondisi Papua tidak berada di bawah status darurat militer. Sejak pencabutan DOM di Papua tahun 1998, status Papua berada dalam kondisi normal dalam konteks keamanan. Sehingga peran-peran Polri yang harus terdepan. Polisi sebagai pemegang kendali utama atas keamanan di Papua. Hal itu didukung pula oleh legislasi sektor keamanan yang menetapkan bahwa Polsi yang berwenang menangani urusan keamanan dalam negeri, bukan TNI. Sementara tugas pokok TNI adalah untuk menangani ancaman bersifat eksternal yang berupa ancaman militer. Meski dalam kondisi tertentu, TNI bisa dilibatkan dalam kerangka tugas perbantuan.

Dilihat dari tata kelola keamanan di atas, memang harus diakui terjadi pergeseran di Papua dimana peran Polri semakin menonjol. Dalam konteks penanganan ketertiban dan keamanan, seperti menangani berbagai aksi unjuk rasa, polisi semakin ada di depan. Juga dalam konteks penegakan hukum yang di masa dulu sering terjadi tumpang tindih antara polisi dan militer. Pergeseran ini tentunya merupakan suatu perkembangan yang positif dalam upaya mengurangi peran militer di wilayah Papua. Kendati dalam sejumlah kasus tetap menunjukkan masih kuatnya dominasi militer.

Tampilnya Polri di Papua ini diharapkan mengubah pendekatan selama ini dalam menangani gejolak sosial politik dan keamanan di Papua. Polisi diharapkan lebih mengedepankan pendekatan persuasi dan mengepankan prinsip-prinsip penegakan hukum, bukan cara-cara represif seperti militer. Perubahan pendekatan ini sangat penting bagi Papua yang lama di bawah cengkraman kekerasan dan pelanggaran HAM.

Meski demikian, tampilnya peran Polri yang semakin menonjol di Papua ini bukannya tidak memiliki sejumlah persoalan. Faktanya, seiring dengan pergeseran itu kita masih melihat berbagai kasus penyimpangan yang dilakukan oleh aparat kepolisian.

Berdasarkan hal itu, sekiranya penting untuk melakukan evaluasi terkait peran kepolisian dalam menangani konflik Papua. Sejauhmana perubahan-perubahan yang telah dihasilkan. Apa masalah dan hambatan yang dihadapi selama ini. Dalam konteks itulah, Imparsial bermaksud menjalankan diskusi dalam konteks evaluasi itu, sekaligus launching hasil penelitian terkait peran Polisi di Papua.

 

 

 

Kegiatan Multi Stage Negotiation Simulation

  • PDF

Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia pada 04-07 Mei 2015 menyelenggarakan kegiatan Multi Stage Negotiation Simulation (MSNS) yang merupakan bagian dari pendidikan SESPARLU (Sekolah Staf dan Pimpinan Kementerian Luar Negeri). Dalam kegiatan tersebut Kementerian Luar Negeri RI mengundang mahasiswa jurusan Hubungan Internasional di Jawa Barat dan Jabodetabek untuk terlibat di dalamnya, Program Studi Hubungan Internasional Universitas Paramadina merupakan salah satu Prodi yang mengirimkan empat mahasiswa untuk terlibat dalam kegiatan tersebut, mereka adalah

1. Putu Lumina Mentari

2. Putri Rheinanda

3. Farah Achmedian

4. Dahlia Puspita Sari

 

Tujuan

Tujuan utama dari diadakannya Multi Stage Negotiation Simulation : Memberikan pelatihan kepemimpinan kepada peserta sesparlu dalam menjadi ketua delegasi untuk membimbing staf-staf delegasinya, sekaligus untuk memberikan introduksi dan memberikan pelatihan praktek diplomasi, negosiasi dan riset kasus bagi mahasiswa yang menjadi staf tersebut. Sebagai bukti keberhasilan, output yang dihasilkan adalah:

a. Mengetahui cara penyusunan riset, kasus dan laporan dari konferensi internasional

b. Memberikan pemahaman mengenai pengadaan kerjasama dan negosiasi bilateral dan multi lateral antar negara.

c. Mengetahui cara penyusunan dan proses terbentuknya perjanjian internasional

 

Melatih kemampuan negosiasi, diplomasi dan berfikir kritis antar negara.

 

Pimpinan Sesparlu dan kemenlu

Head of Delegates (HoD) yang mewakili negara-negara dalam simulasi ini. Acara MSNS merupakan rangkaian pendidikan dan pelatihan kepemimpinan Sesparlu angkatan ke-52


Malam hari pekerjaan para peserta belum selesai. Setiap tim harus mengumpulkan laporan kepada kepala negara masing-masing untuk merangkum acara yang sudah terjadi dan menyusun strategi keesokkan harinya.  Setiap negara bisa melakukan perubahan secara tiba-tiba sehingga harus mempersiapkan pergantian pernyataan dan pidato dalam konferensi berikutnya.

Pers dan media Nasional dan Internasional juga meminta pernyataan dan wakti press conference yang harus diatur oleh para staff delegasi. Staff delegasi bertugas untuk melayani dan membantu kepala delegasi untuk segala kebutuham konferense

Staf delegasi menotulensi konferens untuk pembuatan laporan sekaligus memberikan masukkan materi dan strategi untuk pernyataan yang diwakilkan oleh ketua delegasi.

Kegiatan dari mahasiswa sebagai staf delegasi juga untuk melobby dan bernegosiasi dengan staf-staff lain melalui media elektronik dan kegiatan informal lain seperti makan dan istirahat.

Segala perubahan agenda dan maneuver direkam oleh staf.

al juga meminta pernyataan dan wakti press conference yang harus diatur oleh para staff delegasi. Staff delegasi bertugas untuk melayani dan membantu kepala delegasi untuk segala kebutuham

Acara ditutup dengan sambutan dan dari para ketua direksi sesparlu dan juga kesan dan pesan peserta Sesparlu angkatan ke-52 beserta peserta mahasiswa.

Acara ini sukses dan menurut direktur Sesparlu bapak Odo Rene Manuhutu, acara ini akan diadakan kedepannya terus dan pastinya mengundang para mahasiswa. Pihak kemenlu sangat bangga dengan hasil dan potensi para anggota sesparlu dan mahasiswa.

al juga meminta pernyataan dan wakti press conference yang harus diatur oleh para staff delegasi. Staff delegasi bertugas untuk melayani dan membantu kepala delegasi untuk segala kebutuham konferense

 

 

 

Page 2 of 21

Positive SSL