b-hi.jpg
Profil Prodi HI Studi Hubungan Internasional (HI) adalah
foto_parmad.jpg
  Kurikulum dan Metode Perkuliahan Program Studi Hubungan
tim-hi.jpg
Nama dan Asal Perguruan Tinggi Para Pengajar: Ahmad Khoirul

Kerjasama Prodi Hubungan Internasional dan UCAM (Universidad Catolica De Murcia)

  • PDF

Prodi Hi Paramadina bekerja sama dngn UCAM mengadakan Worksop Bahasa Spanyol pada hari Rabu, 11 Sepetember 2013 jam 13.00 sd Selesai di Ruang Granada .

Acara Workshop ini akan dihadiri oleh Atzimba Luna Becerril (Head Of Cultural Section Of Mexican Embassy)

Bagi Mahasiswa Universitas Paramadina yang berminat untuk menghadiri acara workshop Bahasa Spanyol dapat menghubungi Ani (staff Prodi HI) : 083871883553 atau email : This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it paling lambat tanggal 10 September 2013 jam 15.00 WIB .

"KUNJUNGAN STUDI MAHASISWA HI KE NANNING, GUANGXI INSTITUTE, CHINA"

  • PDF

Dengan Tema “MENUNTUT ILMU KE NEGERI CHINA”, Sepuluh orang delegasi dari Program Studi Hubungan Internasional Universitas Paramadina pada tanggal 14 Juni 2013 berangkat ke Nanning, Republik Rakyat China. Delegasi tersebut terdiri atas Sembilan orang mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional yaitu Muhammad Rifqi Naufaldhia, Roihan Irzady Putra, Rizal Ramadhan Herman, Jino Dwi Putra, Muhammad Sahriyadith, Zulkifli, Siska Permatasari Audi, Yovia Rizky Arvianissa, Nadia Amalia, dan satu orang Dosen Pendamping yaitu Ibu Deasy Olivia Lambean yang merupakan Dosen Luar Biasa untuk Matakuliah Bahasa Mandarin di Program Studi Hubungan Internasional Universitas Paramadina.

Kunjungan ke Republik Rakyat China merupakan salah satu program pada tahun 2013 pada matakuliah Bahasa Mandarin agar mahasiswa yang mengambil atau belajar bahasa Mandarin dapat belajar langsung dari native speaker di negeri China. Program ini bekerjasama dengan China Guangxi International Youth Exchange Institute. Selain belajar bahasa Mandarin, para mahasiswa juga mendapatkan pengajaran mengenai Chinese Handicraft, Chinese Calligraphy, Chinese Music Instrument, Singing Class dan Kung Fu Class. Dan yang tak kalah penting adalah delegasi akan mengunjungi Universitas Guangxi dan sekaligus mendapatkan pengetahuan mengenai Ekonomi China yang disampaikan langsung oleh Dosen Pengajar di Universitas Guangxi.

 

 

 

Misi lain yang diemban oleh delegasi yaitu untuk memperkenalkan Indonesia kepada pemuda pemudi di China, hal ini secara tidak langsung merupakan suatu bentuk kegiatan diplomasi yang dilakukan oleh masyarakat yaitu people to peoples contact. Hal ini tentunya secara tidak langsung juga turut andil dalam memperkenalkan Indonesia kepada khalayak Internasional, khususnya masyarakat di Republik Rakyat China. Program ini berlangsung dari tanggal 14 Juni 2013 hingga 27 Juni 2013.

 

 

SHORT DIPLOMATIC COURSE (SDC) “MEMPERKUAT KOMITMEN UNTUK MENANGGULANGI MASALAH PERUBAHAN IKLIM”

  • PDF

 

Pada 1-2 Mei 2013, Program Studi Hubungan Internasional (Prodi HI) Universitas Paramadina menyelenggarakan SDC dengan mengambil tema tentang perubahan iklim di bawah skema konferensi United Nations Convention on Climate Change (UNFCC). Peserta SDC terdiri dari 74 mahasiswa yang mengikuti kelas Praktik Diplomasi yang diampu oleh Adinda Tenriangke Muchtar MIS dan Grace Hutasoit MIR.

Dalam skema konferensi UNFCCC tersebut, para delegasi yang mewakili negara-negara seperti Brazil, China, India, Indonesia, Jepang, Meksiko, Norwegia, Afrika Selatan, Amerika Serikat, dan Inggris, yang dibantu prosesnya oleh Sekretariat tersebut diberikan mandat untuk menghasilkan rilis berita bersama di hari pertama dan resolusi terkait pendanaan dan teknik kerjasama di hari kedua.

Pada hari pertama, para delegasi melalui kepala delegasinya menyampaikan posisi masing-masing negara terkait permasalahan perubahan iklim, sebelum diikuti dengan sesi tanggapan dan tanya jawab, sampai akhirnya masuk pada proses perancangan rilis berita bersama. Di sesi paripurna baik hari pertama dan kedua dipimpin oleh Ms. Ayu Mellisa mewakili tuan rumah Indonesia, yang menjamu konferensi yang dalam skenario diadakan di Bali tersebut.

Di hari kedua, para delegasi langsung dipisah dalam dua kelompok kerja. Kelompok Kerja I membahas tentang Pendanaan, sementara Kelompok Kerja II membahas tentang Teknik Kerja Sama. Kelompok Kerja I dipimpin oleh Mr. Rofi’Uddarojat dari Delegasi Norwegia. Ms. Sherly Annavita dari Delegasi Brazil memfasilitasi jalannya pembahasan tentang teknik kerja sama di Kelompok Kerja II.

 

Dalam prosesnya, para delegasi tampak bersemangat dan berupaya untuk melakukan yang terbaik, terutama dalam mempengaruhi proses dan hasil konferensi, baik lewat moderated caucus maupun lewat unmoderated caucus di sesi paripurna dan kelompok kerja. Keseriusan para delegasi juga tercermin dari position statement dan position paper yang dipersiapkan seminggu sebelum SDC dimulai.

Para peserta dilatih untuk mempraktekkan secara langsung bagaimana teori dan teknik bernegosiasi dalam SDC ini. Termasuk pemahaman mengenai protokol persidangan, mekanisme pengambilan keputusan dalam konferensi multilateral, dan perumusan resolusi. Selain itu peserta SDC juga belajar membangun koalisi dan menggalang dukungan atas posisi negara yang mereka perankan.

Dalam SDC tersebut juga disisipkan skenario pertanyaan dari para wartawan di sesi konferensi pers dan tanggapan dari para peserta pemantau yang mewakili masyarakat sipil di sesi paparan resolusi di sidang paripurna. Kedua skenario itu sendiri dilakoni oleh perwakilan dari Liaison Officer (LO) dari Himpunan Mahasiswa HI yang ikut membantu penyelenggaraan SDC.

 

SDC ditutup oleh Ketua Prodi HI, Ibu Rizki Damayanti, MA diikuti oleh pemberian sertifikat untuk para pimpinan sidang (Ms. Ayu Melissa; Mr. Rofi’Uddarojat; dan Ms. Sherly Annavita); pembicara terbaik (Mr. Diki Kurniawan); kepala delegasi terbaik (Mr. Julang Aryowiloto); dan delegasi terbaik (Indonesia). Pak Emil Radhiansyah, MSi juga ikut dalam pembagian sertifikat tersebut. Sertifikat juga diberikan kepada seluruh peserta SDC dan panitia SDC.

 

 

 

 

KULIAH UMUM PERUNDINGAN INTERNASIONAL PENGENDALIAN PERUBAHAN IKLIM

  • PDF

Program Studi Hubungan Internasional mengadakan kuliah umum dengan topik Perundingan Internasional Pengendalian Perubahan Iklim pada hari Selasa, 23 April 2013, dengan pembicara Bapak Toferry Primanda Soetikno, Plt. Direktur Pembangunan Ekonomi dan Lingkungan Hidup dari Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia. Kuliah umum ini merupakan bagian dari rangkaian kuliah umum dari mata kuliah Praktek Diplomasi sebelum mahasiswa mengambil bagian dalam Short Diplomatic Course dengan tema serupa yaitu Perubahan Iklim.

Dalam presentasi yang sangat komprehensif, Bapak Toferry menjelaskan betapa isu perubahan iklim merupakan tantangan yang saat ini membutuhkan perhatian penuh dari masyarakat internasional. Pergeseran isu juga terjadi karena isu perubaha iklim saat ini bukan sekedar isu dalam ranah ilmu pengetahuan saja, tetapi sudah memasuki ranah ekonomi dan politik dikarenakan besarnya dampak yang diakibatkan oleh bertambah buruknya perubahan iklim yang terjadi.

Indonesia sebagai negara yang aktif dalam diplomasi lingkungan hidup secara konsisten melaksanakan negosiasi untuk menjamin tercapainya target pengurangan emisi gas kaca yang sudah ditetapkan pemerintah, yaitu sebanyak 26 persen dari tingkat business as usual pada tahun 2020 bahkan sampai 41 persen dengan adanya bantuan internasional. Negosiasi tersebut dicapai baik melalui mekanisme negosiasi bilateral maupun multilateral, dengan konsolidasi internal, regional, interest groups, kelompok negara berkembang (G77), dan secara keseluruhan.

Payung terpenting dalam perundingan perubahan iklim ada dibawah UNFCCC yang telah diadakan sejak tahun 1990. Berbagai tonggak penting dalam perjanjian perubahan iklim dicapai melalui skemai ini, termasik Bali Action Plan yang disetujui di Bali pada tahun 2007 yang menghasilkan Bali Road Map sebagai program untuk mendanai penangkalan perubahan iklim dan disetujuinya program Reducing Emission form Deforestation and Degradation (REDD) dengan bantuan Pemerintah Norwegia.

 

Dalam sesi tanya jawab, dijelaskan pula alasan pemerintah Indonesia untuk menargetkan 26 persen penurunan emisi gas rumah kaca yang melebihi target yang ditetapkan untuk negara berkembang, dimana Indonesia merupakan negara emiter karbon terbesar ke-3 didunia selain China dan Amerika Serikat. Komitmen Indonesia tersebut juga merupakan visi pemerintah Indonesia untuk mengajak negara-negara berkembang lain untuk memberikan komitmen terhadap upaya penanggulangan perubahan iklim secara bersama-sama.

Komitmen ini juga merupakan keputusan presiden yang dikeluarkan pada tahun 2009 dan disampaikan pada pertemuan G20. Sedangkan untuk target diplomasi dalam isu perubahan iklim yang sedang aktif dinegosiasikan oleh Pemerintah Indonesia adalah mengenai pendanaan, peningkatan kapasitas, adaptasi, mitigasi, REDD, serta Land Use, Land-Use Change and Forestry (LULUCF).

 

 

 

Page 6 of 21

Positive SSL