b-psi.jpg
Profil Program Studi Psikologi Program Studi Psikologi
30908_1361374686511_1595906447_30855372_2861386_s.jpg
Kurikulum Program Studi Psikologi disusun untuk membekali para
tim-psi.jpg
Nama dan Asal Perguruan Tinggi Para Pengajar: Alfikalia,

Training Of Trainer "Pembekalan Dasar Pengetahuan Fasilitasi Outing"

  • PDF

Prodi Psikologi Universitas Paramadina bekerjasama dengan Strata Consultant mengadakan kelas pemberian materi Pembekalan dasar pengetahuan fasilitasi outing.

Tujuan diadakannya kelas Training Of Trainer (TOT) ini memberikan pengenalan dasar fasilitasi dalam kegiatan outing, termasuk bentuk-bentuk aktivitas yang dilakukan dalam kegiatan tersebut.

Kelas pemberian materi TOT ini dihadiri oleh 12 orang mahasiswa psikologi diantaranya 4 orang mahasiswa Prodi Psikologi yang akan menjadi fasilitator dalam kegiatan Outing Bank Mega Cabang Karawang dan 8 orang mahasiswa Prodi Psikologi yang berminat untuk ikut membantu kegiatan Outing Bank Mega Cabang Karawang yang diadakan oleh Srata Consultant.

Pembekalan dasar pengetahuan dasar fasilitasi outing ini diadakan pada Sabtu, 27 Maret 2010 di ruang kelas A1-10. Universitas Paramadina.

Diskusi 4 Bulanan Psikologi degan tema "Reinkarnasi Dalam Perspektif Agama Dan Keilmuan"

  • PDF

Prodi Psikologi Universitas Paramadina telah mengadakan diskusi 4 bulanan Psikologi dengan tema " Reinkarnasi dalam Perspektif Agama dan Keilmuan" yang diadakan pada hari Rabu, 21 April 2010 pada jam 10.00-12.00 WIB di ruang Granada Universitas Paramadina.

Pembicaraan mengenai reinkarnasi pun mulai menghangat di Indonesia. Terdapat beberapa pihak yang pro maupun kontra mengenai topik ini. Apalagi jika dikaitkan dengan agama yang dianut oleh sebagian besar penduduk Indonesia yaitu Islam. Untuk itu program studi Psikologi Universitas Paramadina bermaksud untuk menyelenggarakan diskusi ilmiah mengenai reinkarnasi yang akan dikupas dari sisi keilmuan (psikologi) serta dari sisi keagamaan (Islam). Adapun tujuan dari diskusi ini adalah untuk memberikan pengetahuan yang menyeluruh mengenai reinkarnasi dari berbagai sudut pandang.

Untuk membahas hal tersebut maka prodi Psikologi menghadirkan tiga orang pembicara untuk mengupas mengenai reinkarnasi berdasarkan keilmuan, keagamaan dan prakteknya di Indonesia. Pembicara yang membahas mengenai reinkarnasi dari sisi keilmuan adalah Tia Rahmania M. Psi, pembahas reinkarnasi dari sisi keagamaan adalah Muhammad Baqhir M.A, dan dari sisi prakteknya di Indonesia adalah Darmawan B Suleiman.

M. Baqhir membahas reinkarnasi dari sisi agama budha dan Islam. Bapak Baqhir membahas bahwa dalam agama budha pengertian reinkarnasi sebagai jiwa lain yang kemudian memasuki raga yang baru merupakan pengertian yang salah. Karena dalam agama budha, jiwa yang berada pada manusia merupakan bagian dari Tuhan, sehingga setiap jiwa terhubung satu sama lain. Sedangkan agama Islam tidak menyakini kelahiran kembali, yang diyakini oleh Islam adalah jiwa dibangkitkan kembali di Akhirat untuk dimintai pertanggung jawabannya.

Tia Rahmania membahas reinkarnasi dari sisi ilmu Psikologi. Ibu Tia mengemukakan teori dari Jung dimana manusia memiliki ingatan kolektif yang diturunkan dari leluhur manusia. Tujuan dari ingatan kolektif ini adalah untuk menjadi manusia yang seutuhnya. Dalam penelitiannya, reinkarnasi dibedakan menjadi reinkarnasi yang ditimbulkan oleh hypnosis dan yang sejak masa kecil. Jika hendak melakukan penelitian untuk menguji kebenaran reinkarnasi, Ibu Tia menyarankan untuk tidak meneliti reinkaranasi yang ditimbulkan oleh hypnosis karena akan individu yang di hypnosis rentan akan sugesti dari pelaku hypnosis.

Bapak Darmawan mengemukakan bahwa reinkarnasi sudah ada di Indonesia sejak masa agama hindu. Namun seiring dengan bertambahnya pemeluk agama Islam, reinkarnasi menjadi tidak populer. Pada prakteknya, bapak darmawan tidak berusaha mensugesti kliennya. Klien itu sendirilah yang akan melihat masa lalunya melalui teknik hypnosis. Inti dari terapi regresi ini adalah agar klien dapat mengambil inti dari permasalahan dirinya yang rupanya berakar dari masa lalunya. Kemudian setelah klien memahaminya kemudian ingatan tersebut akan 'dihapus' juga dengan menggunakan terapi hypnosis. Darmawan juga mengemukakan bahwa hidup ini bukanlah akibat dari karma, karena ingatan masa lalu manusia bisa dihapus seperti layaknya memori komputer, sehingga kita dapat terbebas dari karma.

Diskusi kali ini dihadiri oleh lebih dari 40 orang. Lebih dari setengah peserta diskusi merasa bahwa materi yang disampaikan mudah dipahami dan menambah pengetahuan. Selain menambah pengetahuan, materi juga disampaikan secara menarik. Peserta merasa bahwa bahasan mengenai ketimuran ini sangat menarik dan mengusulkan tema mati suri sebagai tema berikutnya.

Pelatihan Kepemimpinan Untuk Mahasiswa Psikologi Bekerjasama Dengan "Duta Bangsa"

  • PDF

images/stories/Psi/pelatihan-duta-bangsa.jpg

 

Pendidikan tinggi di Universitas bertujuan untuk menjadikan para lulusannya menjadi role model bagi lingkungan sekitarnya. Demi mewujudkan cita-cita menjadi seorang role model bagi sekitarnya dibutuhkan sebuah persiapan yang matang dan dukungan dari pihak-pihak lain. Segala sesuatu yang harus dipersiapkan untuk meraih cita-cita dapat dimulai dari usia muda. Dengan matangnya persiapan yang dilakukan, maka semakin siap seorang individu dalam meraih cita-citanya untuk menjadi seorang pemimpin yang bijaksana dan dapat mengarahkan lingkungannya menuju kebaikan.

Read more...

Psycofun "Full Of Friendship"

  • PDF

Dalam rangka mempererat tali silaturahmi di keluarga besar program studi Psikologi Universitas Paramadina. Alumni mahasiswa Psikologi Paramadina mengadakan acara "Psycofun : Full Of Prienship", acara ini diselenggarakan selama 2 hari 1 malam pada hari Sabtu dan Minggu 12 & 13 Desember 2009 di Villa Ghitari, Cisarua Puncak.

Acara ini dihadiri sekitar 105 orang diantaranya Alumni, dosen tetap Prodi Psikologi, mahasiswa Prodi Psikologi dan perwakilan dari rektorat juga ikut serta dalam acara ini. Acara alumni ini merupakan agenda rutin 1 tahun sekali Prodi Psikologi.

Banyak sekali manfaat yang dapat diambil dalam acara ini seperti games-games yang diadakan  oleh panitia ternyata dapat mengakrabkan antara dosen dan mahasiswa.

Semoga acara alumni ini dapat terus diadakan setiap tahunnya.

Pengabdian Masyarakat "Pelatihan Kepada Guru dan Orang Tua Murid Berkebutuhan Khusus"

  • PDF

Menindak lanjuti MOU dengan SDN Meruya Selatan 06 Pagi Inklusi, Program Studi Psikologi mengadakan pelatihan kepada guru dan orang tua murid berkebutuhan khusus. Pelatihan pada tanggal 12 Januari 2010 ini merupakan kelanjutan dari pelatihan pertama yang diberikan oleh prodi Psikologi Universitas Paramadina pada tanggal 12 Agustus 2009.

SDN Meruya Selatan 06 Pagi adalah sekolah inklusi percontohan untuk daerah Jakarta Barat. Sekolah inklusi adalah sekolah yang melibatkan anak-anak berkebutuhan khusus. Sebagai sekolah inklusi tentunya memiliki tantangan-tantangan tersendiri dari sisi siswa dan guru yang memberikan pengajaran. Tantangan yang mungkin ada antara lain adalah tingkat stress yang tinggi dan pada orang tua dan guru dalam menghadapi anak-anak berkebutuhan khusus. Tantangan lain yang mungkin terjadi adalah ketidaksiapan dan kurangnya pengetahuan dalam menghadapi anak-anak berkebutuhan khusus. Oleh karena itu program studi Psikologi menyelenggarakan pelatihan bagi guru dan orang tua siswa dalam menghadapi stress dan mengenali anak-anak berkebutuhan khusus termasuk cara penanganannya.

Pelatihan pertama telah diselenggarakan pada tanggal 12 Agustus 2009. Pada pelatihan pertama, Ibu Adriatik Ivansi Mpsi (Bu Vivi) mengetengahkan mengenai pola pendidikan pada sekolah Inklusi. Pelatihan pertama ini hanya dihadiri oleh guru sekolah inklusi saja. Karena tanggapan yang sangat banyak dari para peserta, kemudian prodi Psikologi menyelenggarakan kembali pelatihan pada tangal 12 Januari 2010 dengan tema yang berbeda. Pada pelatihan ini Bu Vivi dan Ibu Devi Wulandari M. Sc (Bu Devi) kembali memberikan materi di SDN Meruya Selatan 06 Pagi.

Ibu Vivi membahas mengenai jenis-jenis anak berkebutuhan khusus serta pola pendidikan yang tepat. Pada pemaparan materi tersebut dijelaskan mengenai jenis-jenis anak berkebutuhan khusus antara lain austime, hambatan intelektual, keterlambatan belajar, kesulitan belajar, dan anak berbakat kesulitan belajar. Anak-anak berkebutuhan khusus tersebut memerlukan penanganan yang berbeda-beda. Begitu pula cara mendidik mereka untuk baca, tulis dan hitung (calistung). Anak-anak tersebut juga tidak bisa didudukan bersama. Bahkan untuk anak dengan hambatan inteletual lebih baik disekolahkan di SLB C karena memang membutuhkan keterampilan dan perhatian khusus. Bu Vivi kemudian menjelaskan bahwa anak-anak tersebut tidak menginginkan hal tersebut terjadi pada dirinya, oleh karena itu sebagai orang tua dan guru yang mendidik sebaiknya bersabar dan ikhlas menerima kondisi anak tersebut. Khusus sekolah inklusi dibutuhkan kerjasama antara guru kelas dengan guru kebutuhan khusus untuk membuat PPI (program pengajaran indvidual) dan dalam mendidik anak berkebutuhan khusus, sehingga guru kelas tidak merasa stress dalam menghadapi anak normal maupn anak berkebutuhan khusus yang berada di kelasnya.

Materi selanjutnya diberikan oleh Bu Devi yang mengetengahkan mengenai cara mengenali stres dan penanganannya. Dipaparkan bahwa stress adalah kesenjangan antara tuntutan lingkungan dan sumber daya yang dimilikinya. Stress juga menimbulkan reaksi fisik (pusing, berkeringat, tekanan darah meningkat), sosial (menjauhkan diri dari lingkungan, reaktif), spiritual (mempertanyakan agama, merasa marah pada Tuhan), psikologis (cemas, marah) dan perilaku (reaksi berlebihan, perubahan pola makan dan tidur).

Guru dan orang tua murid menanggapi pelatihan ini dengan baik. Peserta merasa bahwa pelatihan ini memberikan pemahaman dan sesuai dengan harapan. Materi yang disajiikan juga mudah dicerna dan dipahami dengan baik. Beberapa masukan untuk pelatihan akan datang adalah sebaiknya diselenggarakan lebih pagi dan di luar waktu pengajaran agar mudah berkonsentrasi. Beberapa masukan untuk materi yang akan datang adalah mengenai perluasan materi mengenai ABK dan penanganannya terutama praktiknya. Pelatihan mengenai relaksasi dan prakteknya juga dapat diperluas.

Diskusi 4 Bulanan Dengan Tema "Sixth Sense Dalam Perspektif Kebudayaan dan Psikologi"

  • PDF

Ilmu pengetahuan selalu mendasarkan diri atau mengembangkan dirinya pada hal-hal yang empiris, bersifat fisik, dapat diukur dan dapat dibuktikan. Kiblat terhadap 'kefisikan' ini sempat mengusai pemikiran ilmuwan-ilmuwan Psikologi hingga beberapa dekade terakhir ini Psikologi tidak dapat menerangkan beberapa fenomena kesadaran yang dialami oleh manusia. Ilmuwan Psikologi tidak lagi hanya tertarik mengenai kesadaran, perilaku semata tapi mulai juga ingin mengetahui sumber ataupun penyebab kesadaran manusia.

Beberapa fenomena kesadaran manusia ataupun perilaku manusia yang tidak dapat diterangkan oleh psikologi positivistik adalah adanya indera ke enam (sixth sense). Fenomena indera ke enam ini dalam psikologi disebut dengan para psychology. Tart (1995) mendefinisikan parapsikologi sebagai ilmu yang mempelajari hal-hal di luar psikologi. Hal-hal yang termasuk dalam parapsikologi adalah telepati (kemampuan untuk komunikasi antar pemikiran individu), clairvoyance (hubungan langsung antara pikiran dan obyek fisik tanpa sentuhan fisik), prekognisi (memprediksikan masa depan), psikokinesis (pengaruh pikiran terhadap benda tanpa sentuhan fisik terhadap benda). Parapsikologi disebut juga dengan ESP (extrasensory perception) atau psi phenomena. Para psikologi ini meskipun ditentang oleh banyak pihak tetap menarik perhatian para ilmuwan. Mereka bahkan mengembangkan metode penelitian tersendiri untuk mempelajari fenomena-fenomena kesadaran ini.

Sebelum para ilmuwan mempelajari mengenai ESP ini, kebudayaan jawa telah lama membahas mengenai pengalaman inderawi ini. Salah satunya adalah kemampuan untuk 'ngerogo sukmo' yang dalam bahasa inggris dikenal dengan istilah 'out of body experience' (OOBE). Kemampuan ini biasanya dimiliki oleh orang-orang yang memiliki kemampuan lebih atau indera ke enam tersebut.

Meskipun demikian masih banyak individu yang memperdebatkan apakah kemampuan ini merupakan hal yang ilmiah atau hanya bersifat subyektif belaka. Alasan inilah yang kemudian mendorong untuk diadakannya diskusi lanjutan 4 bulanan dengan tema indera ke enam ditinjau dari perspektif keilmuan dan kebudayaan.

Untuk membahas hal tersebut maka program studi Psikologi kemudian mengundang tiga pembicara yang akan berbicara dalam sisi keilmuan, kebudayaan dan profesional. Pembicara pertama adalah Bpk. Lukman Hakim yang akan berbicara mengenai sixth sense dari sisi kebudayaan. Pada pembahasan ini dibahas bahwa sixth sense ini tidak hanya sulit digolongkan pada ilmu Psikologi tapi juga dalam ilmu antropologi. Konsep indra keenam ini dalam bidang antropologi menjadi sulit didefinisikan dan diberikan batasannya tatkala ia terkait bahkan berbenturan dengan konsep-konsep lain yang berdekatan. Sebagai misal adalah: yaitu, konsep magi, spiritual, ghaib, misteri, bathin, ruhani, dan lain-lain.

Kebingungan dan kerancuan di dalam mendefinisikan indra keenam ini tampak terlihat dalam uraian Soesanto Kartoatmodjo di mana dia menjelaskan secara tumpang tindih antara pengertian ruh, ghaib, misteri, dan kesadaran (Kartoatmodjo, 1995: 38-43). Di sini, Kartoatmodjo secara luas hanya menjelaskan konsep dan pengertian apa itu paranormal. Dari penjelasan Kartoatmodjo paranormal adalah seseorang yang memiliki “kemampuan lebih” atau orang yang mampu menggunakan kekuatan indranya selain indra fisik. Djojodigoeno menggunakan istilah yang berbeda di dalam menjelaskan indra keenam. Djojodigoeno di sini menggunakan konsep kebatinan (Kartoatmodjo, 1995: 39) dan mengklasifikasikan orientasi aliran kebatinan jawa sebagai berikut :

  1. Aliran Okultis, yaitu aliran yang mengutamakan daya-daya ghaib untuk melayani pelbagai keperluan manusia.

  2. Aliran Mistik, yaitu aliran yang berusaha untuk mempersatukan jiwa manusia dengan Tuhan semasa hidup di dunia.

  3. Aliran Teosofi, yaitu aliran yang ingin mengungkap rahasia “sangkan paraning dumadi” (asal-usul makhluk) dalam hal ini manusia.

  4. Aliran Etika, yaitu aliran yang ingin mengembangkan budi luhur serta berusaha membangun budi pekerti manusia dan masyarakat.

Dalam budaya jawa, ilmu kebatinan ini mendapatkan tempat yang cukup penting yaitu menjadi semacam ideologi di kalangan masyarakat jawa. Selain itu, kebatinan (mysticism) dalam budaya jawa juga menjadi paham (ideologi). Paham (ideologi) kebatinan itu secara mengejutkan menjadi ideologi politik dan dijadikan sebagai sarana untuk menentang penguasa. Bagaimana paham kebatinan itu menjadi ideologi politik dapat dilihat dalam karya Niels Mulder di mana ia menyatakan bahwa awal mula ajaran kebatinan itu berkembang menjadi ideologi politik untuk merespon pendudukan kolonialisme Belanda di Jawa yang berlangsung pada abad 19 – 20 (Mulder, 2006: 1).

Dengan demikian tidak aneh jika fenomena komunitas spiritual dan keagamaan hingga sekarang senantiasa terkait dengan persoalan politik. Fenomena itu dapat disaksikan betapa praktik spiritualitas misal komunitas dzikir di masjid maupun di tempat peribadatan lain di sana senantiasa ada relasi antara sang pemimpin spiritual dengan “penguasa” atau dengan kata lain keberadaan acara ritus dzikir senantiasa mengharapkan kehadiran penguasa ditengah-tengah mereka.

Bahkan Pancasila sebagaimana dikemukakan oleh Mulder di masa Orde Baru Pancasila dijadikan ideologi kepercayaan oleh Soeharto dengan menempatkan aliran kepercayaan sebagai salah satu ajaran di luar agama resmi negara. Selain aspek politis, praktik ritus keruhanian ini juga melahirkan banyak mitos dan kepercayaan. Mitos dan kepercayaan itu dapat disaksikan misal masyarakat yakin akan adanya Nyai Roro Kidul, Ratu Adil, Harta Karun peninggalan Bung Karno, dan lain-lain.

Kemudian pemakalah selanjutnya adalah Bpk. Haris Herdiansyah dimana Ia memaparkan ketidaksetujuannya dengan istilah sixth sense atau indera ke enam tersebut. Ia berpendapat bahwa indera keenam hanya istilah saja untuk menyatakan bahwa manusia memiliki “tools” lain selain panca indera. Tools ini dapat saja berjumlah satu, dua, tiga atau lebih banyak lagi sehingga mungkin saja manusia memiliki indera ketujuh, indera kedelapan atau indera kesepuluh. Sejarah parapsikologi dimulai oleh M. Dessoir pada akhir abad ke-19. Dessoir adalah seorang dokter yang memiliki minat yang tinggi dalam membahas kejiwaan manusia. Atas dasar latar belakang pendidikannya tersebut, Dessoir mengemukakan istilah parapsikologi yang terinspirasi dari istilah lain dalam ilmu kedokteran yaitu paramedic dan parathypus. Kata “para” diartikan sebagai “di samping”. Sejak awal kemunculannya, parapsikologi membahas hal-hal atau gejala-gejala yang terjadi disamping gejala yang normal menurut sudut pandang umum yang lumrah dan normal. Sehingga orang lebih mudah mengingatnya dengan istilah para-normal yang berarti disamping hal yang normal. Dalam perkembangannya, istilah paranormal lebih popular di masyarakat ketimbang istilah sixth-sense atau parapsikologi. Kemudian Ia juga mengemukakan perkembangan indera ini pada manusia yang kemudian dapat digolongkan menjadi:

  1. Paragnosi, yaitu kemampuan melakukan pengamatan/melakukan persepsi serta memberikan respon di luar panca indera (extra sensory perceptions). Dalam paragnosi stimulus dipersepsi melalui batin/mental/jiwa (psyche), kemudian respon yang diberikan juga melalui batin/mental/jiwa (psyche). Cara kerja paragnosi yaitu dari psyche ke psyche. Seseorang yang memiliki kemampuan paragnosi disebut sebagai paragnos . Yang termasuk ke dalam paragnosi yaitu : telepati dan kewaskitaan

  2. Parergi, yaitu kemampuan mempersepsi diluar panca indera yang dapat langsung menimbulkan pengaruh/perubahan yang bersifat fisik (extra sensory motor activity). Dalam parergi, Stimulus dipersepsi melalui batin/mental/jiwa (psyche), kemudian respon yang diberikan mempengaruhi fisik. Cara kerja parergi yaitu dari Psyche ke physic. Individu yang memiliki kemampuan parergi disebut sebagai parergas, yang termasuk ke dalam parergi yaitu : levitasi, kemampuan menyembuhkan, telekinetik, rapping, appor, dan lain sebagainya.

Pemaparan selanjutnya dikemukakan oleh Aline Sahertian sebagai praktisi. Ia mengemukakan pengalaman hidupnya sebagai individu yang memiliki indera ke enam. Aline mengakui bahwa ia memiliki seluruh kemampuan lebih tersebut (Paragnosi maupun parergi) yang dimilikinya sejak ia kecil. Meskipun pada awalnya ia belum dapat mengontrol kemampuan tersebut, Aline mengakui bahwa seiring dengan kedewasaannya ia dapat mengatur kemampuannya.

Diskusi kali ini dihadiri oleh 33 peserta dari civitas akademika Universitas Paramadina. Dari lembar feedback yang kami sebarkan, peserta merasa bahwa materi yang dibawakan cukup menarik, menambah pengetahuan dan sesuai harapan peserta. Lebih dari setengah perserta berpendapat bahwa suasana diskusi ini kondusif untuk menambah pengetahuan, pemahaman serta pembelajaran peserta. Beberapa masukan yang diberikan oleh peserta adalah peserta merasa bahwa ruangan yang digunakan tidak memadai untuk menampung banyak peserta, sehingga disarankan untuk menggunakan ruangan yang lebih luas lagi sehingga lebih kondusif bagi peserta untuk berpartisipasi.

Page 6 of 8

Positive SSL