b-fa.jpg
Profil Program Studi Falsafah dan Agama Program Studi
ku_fa.jpg
Kurikulum dan Metode Perkuliahan Kurikulum disusun dengan
tim-fa.jpg
Nama dan Asal Perguruan Tinggi Para Pengajar: A.Luthfi

Developing a Anti-Terrorism Curriculum

  • PDF

Last month the country's largest Muslim organization Nahdlatul Ulama organized an international seminar on anti-terrorism. One of its agendas is to develop an anti-terrorism curriculum in religious education. Nahdlatul Ulama (NU) is not the only institution is developing an anti-terrorism curriculum and its application.

Several related parties such as the National Education Ministry, the Religious Affairs Ministry, the Defense Ministry and civil society organizations also have similar concerns. But they have been able to formulate a suitable curriculum, especially regarding its content, method and teaching and learning process application.

Before developing a curriculum, it is important to consider terrorist ideology characteristics. In general, there are at least four characteristics.

First is rigidity, the manifestation of Islamic practices with a strict understanding. Most terrorists reject facts that show the flexibility of Islamic practices applied to Islam in different specified contexts.

Second is literalism. Most terrorists understand the Koran and the hadith in the literal sense.

Third is generalization. Most terrorists see the world in a simplified manner, mainly dividing human into two Muslims and infidel, without considering the world's circumstances.

Fourth is the pathway to absolutism and rejection, where most terrorists see their own opinion as the ultimate truth, in the name of God, and therefore tend to reject the opinions of others.

Considering the above four characteristics of terrorist ideology, I want to make some notes for developing an anti-terrorism curriculum in religious education. I will apply Brenda Watson's explanations about orientation, method and content of education curriculum as shown in her book, Education (1987). The notes are based on big mistakes within orientations, methods and contents of our current religious education, while at the same time provide alternatives to solve those problems.

First, it often is that religious education faces disorientation. Instead of the education process, it changes the orientation to the process of indoctrination. In religious education that changes its orientation from education to indoctrination, students are not encouraged to practice maturity, tolerance, creativity and rational and critical thought. There is no opportunity for students to question their teachers. Students more likely enforced to understand teachings in a dogmatic sense and believe information is absolute. This kind of teaching process creates fertile soil for the embryo of radicalism and terrorism.

Second, the religious education syllabus is more concentrated on the normative aspects of religious teaching than other aspects such as spiritual growth, moral education, character development and social attitude. Using Watson's concept, religious education should value these aspects by applying at least the three central education methods: experience, imagination and thinking.

Experience is a basic element to build self-awareness and tolerance among students. Religious education should help students to understand the meaning and implications of experiencing certain religious rituals. It is hoped students understand there should be a balance between ritual and social piety.

Imagination is needed to help students have a wider and broader sense of their environment. In term of religious subjects, imagination can be a medium to exercise empathy, putting oneself in another person's mould.

Critical thinking is a way for students to learn to be rational and critical. Applied to religious education, it may help students to think rationally and critically, not dogmatically and literally. They will learn to challenge their religious teaching if they learn information that contradicts the context they live in.

Third, often religious education scholars only know about their religion. They do not want to enrich their knowledge about other religions for themselves and students. Consequently, teachers mostly teach religious education with a narrow perspective. It is rare that teachers teach comparative religions and explain more about other religions and their common platform.

Also, it is rare that religious education teachers, for example, take students to other places of worship such as churches, temples and synagogues to promote interfaith dialogue or volunteering involving cooperation between students from different religions. In my opinion, this is an effective way to build student's perspective of religious plurality and enhance inclusiveness and tolerance.

Fourth, that is also no less important in religious education. To measure the success of a religious education-based anti-terrorism curriculum, it cannot only assess the level of students' memorization of and attitude to the words of God in the holy text.

The writer is a lecturer at the Department of Philosophy & Religion, Paramadina University, Jakarta, and is currently a PhD student at Goethe University Frankfurt, Germany.

-------------------------------

Suratno (Dosen Falsafah & Peradaban Universitas Paramadina)
Tulisan ini dimuat di Harian The Jakarta Post, 10 Desember 2009.

Konsolidasi Program Studi

  • PDF

Kegiatan Konsolidasi Program studi diselenggarakan oleh Program Studi Falsafah dan Agama pada tanggal 2-4 Oktober 2009 bertempat di Puncak, Jawa-Barat. Kegiatan tersebut dihadiri oleh dosen tetap, dosen luar biasa, mahasiswa per angkatan, dan alumni. Adapun agenda acara konsolidasi program studi membahas :

1. Raker HIMAFA

2. Perkenalan antara mahasiswa/angkatan dan alumni

3. Rapat program untuk mahasiswa baru angkatan 2009

4. Perpisahan ketua program studi Falsafah dan Agama (Bapak Suratno, MA)

Presentasi Buku Teks Pendidikan Agama Islam

  • PDF

Tim penyusun buku teks Pendidikan Agama Islam terdiri dari 9 orang yaitu Suratno, MA, Novriantoni, M.Si, Dr. Abd. Moqsith Ghazali, Euis, M. Ag, Aan Rukmana, S.Fil, Nanang Tahqiq, MA, M.Subhi Ibrahim, M.Hum, Lukman Hakim, M.Ag, Dr. Asep Usman Ismail. Kegiatan ini diselenggarakan pada tanggal 8 September 2009, jam 15.00-17.00 WIB, ruang A2-5. Tema yang dipresentasikan yaitu Islam Agama Pasrah dengan pembicara Nanang Tahqiq, MA.

Seminar Perbandingan Transisi Demokrasi di Indonesia dan Malaysia

  • PDF

Kegiatan seminar mengenai Perbandingan Transisi Demokrasi di Indonesia dan Malaysia, diselenggarakan pada tanggal 5 September 2009,  ruang A1-10, nara sumber : M. Taufiqurrahman. Seminar ini membahas tentang kajian politik perbandingan di Indonesia dan Malaysia dimana kedua negara ini memiliki kedekatan budaya dan memiliki beberapa kesamaan. Kesimpulan akhir dari seminar ini adalah transisi menuju demokrasi akan lebih memiliki peluang ketika elit ada pada posisi dimana mereka terpecah belah secara serius, dan ini sudah terjadi di Indonesia. Di Malaysia, anggota elit oligarki tetap kokoh bersatu dan menggalang kekuatan untuk melawan upaya yang hendak mendorong transisi untuk menggulingkan posisi nyaman mereka memegang kendali sumber daya alam.

PSIK-PROGRAM STUDI FALSAFAH DAN AGAMA : Diskusi Seri Kajian Islam dan Kebudayaan Indonesia

  • PDF

Kegiatan diskusi seri "Kajian Islam dan Kebudayaan Indonesia" merupakan kerjasama Program Studi Falsafah dan Agama dengan PSIK (Pusat Studi Islam dan Kenegaraan), diselenggarakan pada tanggal 14 Mei 2009, bertempat B1-1 Universitas Paramadina, dengan nara sumber Lukman Hakim, MA. Diskusi  seri ini membahas tentang Transisi Peradaban Islam Indonesia-Beberapa Pertimbangan Antropologi. Kesimpulan dari diskusi seri ini adalah : Konsep transisi dari kacamata antropologi merupakan konsep yang menunjukkan peralihan dimana dari peralihan itu belum dapat ditentukan ke arah mana dan budaya baru apa yang akan terbentuk. Perspektif teori antropologi globalisasi layak dipertimbangkan sebagai sarana untuk mengkaji persoalan globalisasi seperti saat ini. Sebagai tawaran konstruksi autentisitas tradisi untuk mempertegas jati diri dalam percaturan global merupakan strategi untuk meramu pelbagai nilai yang ada agar kita tidak terombang-ambing oleh perubahan yang demikian cepat berjalan.

Bedah Buku Dr. Abdul Moqsith Ghazali " Argumen Pluralisme Agama Membangun Toleransi Berbasis Al Qur'an"

  • PDF

Kegiatan bedah buku " Argumen Pluralisme Agama, Membangun Toleransi Berbasis Al Qur'an" diselenggarakan pada tanggal 31 Maret 2009, bertempat di Auditorium Nurcholish Madjid, pembicara : Syafii Anwar (Direktur ICIP), Ph.D, Prof.Said Agil (Ketua PBNU), Dr.Abdul Mogsith Ghazali (penulis buku). Buku karangan Dr. Abdul Moqsith Ghazali ini berisi sikap teologis Al Qur'an dalam merespon pluralitas agama dan umat beragama. Al Qur'an jika dipahami secara jujur dan cerdas, bersikap lebih toleran dibandingkan dengan sikap sebagian umat yang berpikiran parsial. Buku ini telah melakukan terobosan dalam mengungkapkan tersedianya kerangka normatif (tafsir) Al Qur'an untuk menopang toleransi beragama. Buku ini memiliki kontribusi penting bagi penguatan toleransi beragama dalam perspektif Muslim.

Pembicara pertama yaitu Kyai Said menjelaskan akar-akar pluralisme dalam Islam, baik secara historis maupun doktiner (Al Qur'an dan Hadits), misalnya dijelaskan bahwa secara  historis Islam datang pada abad ke-7 Masehi. Ditengah keberagaman agama masyarakat Arab pada masa itu, baik kaum Yahudi, Nasrani, kaum Pagan, kaum Hunafa (pengikut ajaran Nabi Ibrahim yang tidak memeluk agama Yahudi dan Nasrani).

Pembicara kedua yaitu Syafi'i Anwar menyatakan bahwa pluralisme sangan berbeda dengan relativisme agama. Syafi'i dengan mengutip ungkapan Hans Kung, juga merekomondasikan bahwa pluralisme seharusnya bisa menjadi etika global pada masa yang akan datang. Diakhir penjelasannya, Syafi'i memberikan rekomondasi pada penulis buku untuk melanjutkan ijtihad intelektualnya dengan menulis buku bertema Fiqh Siyasah yang berkaitan dengan pluralisme.

Pembicara ketiga yaitu Dr. Abdul Moqsith Ghazali menegaskan kembali tesis-tesis yang telah ditulis dalam bukunya. Menurut beliau, " Seorang pemikir muslim tidaklah cukup beragumentasi dengan dalil-dalil teologis akan tetapi harus didukung oleh dalil-dalil historis, dimana nilai-ideal-teologis itu dimanifestasikan dalam ruang dan waktu. Akar-akar konflik antaragama tidaklah disebabkan oleh asumsi teologis penganutnya, tapi lebih banyak disebabkan oleh permasalahan sosial ekonomi politik yang tidak selesai diantara mereka.

 

More Articles...

Page 6 of 7

Positive SSL