b-fa.jpg
Profil Program Studi Falsafah dan Agama Program Studi
ku_fa.jpg
Kurikulum dan Metode Perkuliahan Kurikulum disusun dengan
tim-fa.jpg
Nama dan Asal Perguruan Tinggi Para Pengajar: A.Luthfi

Abdul Hadi, Hermeneutika, dan Makna Metafisik

  • PDF

 

Reporter: Ach. Fadil

Hermenetika sempat menjadi polemik di kalangan para intelektual muslim di Indonesia, ada yang pro dan yang kontra. Tapi belakangan ini, dengan cukup banyaknya karya-karya yang berhaluan hermeneutik, polemik itu cenderung sirna, dan hermeneutika kembali mengemuka sebagai salah satu upaya penafsiran yang bisa dibilang cukup representatif terhadap teks-teks klasik, baik yang sifatnya profetik atau non-profetik. Karena memang tak ada satu ilmu pun yang bisa dibilang paling shahih, dan memang tidak ada—kecuali hanya klaim—dan masing-masing mempunyai kekurangan dan kelebihan.

Dalam sejarah perkembangan filsafat, era modernisme, pos-modernisme, positivisme, dan neo-positivisme—termasuk di dalamnya hermeneutika modern—telah mereduksi banyak hal. Hermeneutika, dari yang awalnya berupaya mengungkap makna metafisis (batin) ke hal-hal yang sifatnya mimetik-positivistik. Filsuf-filsuf Barat—walaupun tidak semuanya—seperti Descartes, Imanuel Kant, Newton, August Comte, Levi-Strauss, Foucoult, Derrida, dan lain-lain dianggap sebagai orang-orang yang berada di haluan tersebut.

Abdul Hadi WM, penulis buku Hermeneutika Sastra Barat dan Timur yang pada hari Jum’at (02/05) buku tersebut diseminarkan di Auditorium Nurcholish Majid Universitas Paramadina, mengkritisi kerja hermeneutika modern yang hanya memperhatikan hal-hal yang sifatnya obyektif-eksternal saja. Baginya, hermeneutika klasik memperhatikan aspek-aspek metafisika; makna batin. Orang-orang seperti Paul Ricoeur, Dilthey, Schleiermacher, dan Gadamer adalah orang-orang yang berjasa mengemukakan kembali aspek yang dihilangkan pada hermeneutika modern, yaitu aspek metafisika tadi. Hal ini juga ditekankan oleh penulis buku tersebut bahwa hermeneutika sangat relevan dengan aspek metafisik. “Contoh aspek metafisika Pancasila adalah ketuhanan yang maha esa; Islam asasnya adalah tauhid. Sehingga kalau hal itu dihilangkan, maka hilanglah teks-teks ituungkapnya.

Sementara itu, pendapat Abdul Hadi yang tertuang dalam buku tersebut—yang mengkritisi para pakar hermeneutika Barat-modern—mendapat kritikan dari Tommy Christommy yang juga menjadi pembicara pada waktu itu. Baginya, penulis buku semacam mempunyai standar ganda. Sebab Penulis buku tersebut—dalam hal ini pak Abdul Hadi—menurutnya cukup berani mengkritisi hermeneun Barat. “Tapi di sisi lain, orang-orang seperti Paul Ricoeur, Dilthey dkk. yang juga berasal dari Barat dianggap sebagai orang-orang yang berjasa mengangkat kembali aspek metafisis yang telah hilang” paparnya.

Pembicara ketiga, Fuad Mahbub Siraj, mencoba membela Abdul Hadi dari kritik yang dilontarkan oleh Tommy Christommy. “Pak Abdul Hadi, walaupun mengkritik hermeneutika Barat, tapi masih pilah-pilih (dalam arti tidak secara keseluruhan para pemikir Barat), contohnya Dilthey, Gadamer, dan lain-lain yang dianggap masih punya akses terhadap aspek-aspek metafisis. Karena mereka juga mengkritisi tafsiran yang sifatnya positivistik” ungkap penulis buku Ibnu Rusyd: Filosof Islam di Dunia Islam Barat tersebut.

Dalam buku Hermeneutika Sastra: Barat dan Timur, Abdul Hadi dengan terang-terangan mengatakan bahwa sebenarnya dalam Islam sudah berkembang aspek-aspek hermeneutis secara tradisi, yaitu apa yang disebut dengan ta’wil. Ta’wil sebagaimana diungkapkan olehnya, merupakan tafsir spiritual atau simbolik, dan merupakan bentuk penafsiran yang lebih intensif serta ditujukan pada makna batin teks. Itulah yang menurutnya ta’wil bisa dikategorikan sebagai hermeneutika dalam tradisi Islam.

Namun, Nanang Tahqiq—pembicara terakhir yang hadir sebagai pakar kebudayaan Islam—berpandapat lain. Bagi dia, dalam tradisi Islam, memang ada konsep tafsir dan ta’wil, namun, di sisi yang lain juga ada konsep balaghah, bayan, ma’ani, dan badi’. Masing-masing ada spesifikasinya masing-masing. “Tafsir dan ta’wil biasanya digunakan untuk menganalisa teks-teks profetik (kitab suci: al-quran dan al-Hadits), sementara balaghah, badi’, ma’ani dan bayan digunakan untuk menganalisa teks-teks non-profetik (teks sastra)” ungkapnya. Artinya, bagi Nanang, pendekatan yang digunakan oleh Abdu Hadi dalam membaca tradisi Islam, menggunakan pendekatan Barat. Padahal anatara “western approach” dan “islamic approach” berbeda.

Contoh yang dikemukakan oleh Nanang adalah tradisi tasawuf dan filsafat. Keduanya menurut dia pendekatnnya berbeda. Baginya, tasawuf itu intinya hanya satu, yaitu “cinta Tuhan”. Sehingga semua tulisan (teks) yang lahir dari para sufi itu adalah bernuansa cinta atau mahabbah atas Tuhan dan banyak yang melakukan mimesis terhadap al-Qur’an, seperti syair-syair yang lahir dari tangan sufi nusantara, Hamzah Fansuri. Sementara teks-teks filsafat, katakanlah seperti roman filosofis Hayy Ibnu Yaqdzan dengan judul lengkapnya Risalah Hayy Ibnu Yaqdzan fi Asrar al-Hikmah al-Masriqiyah karya Ibnu Thufail, mononjolkan sisi rasionalitas, bukan sisi cinta yang merupakan ungkapan perasaan hati (qalb). “Sehingga untuk menganalisa Hayy Ibnu Yaqdzan tidak bisa menggunakan pendekatan “cinta Tuhan” seperti dalam menganalisa teks-teks tasawuf. Jadi tidak bisa dipukul rata dengan pendekatan metafisis saja” pungkasnya.

Kritik yang dilontarkan oleh Nanang Tahqiq dijawab secara lugas oleh Abdul Hadi. Baginya, semua contoh yang dipaparkan oleh Nanang, baik balaghah, bayan, maupun ma’ani bersifat metafisis. “Bayan dan ma’ani (ilmu tentang makna) berangkat dari ta’wil (pemahaman batin). Pun juga roman Hayy Ibnu Yaqdzan, walaupun ia merupakan roman filosofis, ia bersifat fiktif, simbolis, alegoris, dan metafor, yang kemudian dinarasikan dengan bahasa. Jadi, ekspresi batin juga” kelakarnya. Sekian []

 

Positive SSL